Rosa bercerita ia pernah mengajar di Distrik Poga, sekolah unggulan. Di sana, ia sangat sulit mengajar bahasa indonesia. Mereka masih terbata-bata.
Akibat melihat sistem sekolah yang Jawasentris, Rosa memberikan pengajaran yang berbeda. Sistem mengajar kreatif yang diajarkan Rosa tidak menjauhkan anak-anak Papua dari daerahnya. "Anak-anak Papua harus dididik dengan gaya Papua, bukan gaya Jawa," katanya.
Akhirnya, ia diberhentikan yayasan mengajar karena tidak bisa mengikuti sistem kurikulum yang ditetapkan yayasan. Setelah diberhentikan, ia justru terpanggil ke Papua. Terbang ke Papua dengan biaya pribadi, ia mulai mengaktifkan kembali sekolah di Lualo, Lanny Jaya, yang sempat tidak aktif.
Rosa pun berhasil merekrut guru. Aktivitas Rosa sekarang, ia pindah ke Asmat. Proses masih tahap observasi selama satu bulan. Ia juga menilai sistem sekolah untuk anak Asmat tidak bisa mengakomodasi kebutuhan dengan pendidikan.
Sebagai bagian fasilitas, Rosa membuat sekolah Asmat dengan sekolah perahu. Hal ini karena melihat mereka suka berburu dan melaut. Pengajaran yang diutamakan berupa baca, tulis, dan hitung.
"Saya ingin memberikan kesempatan anak-anak Papua untuk belajar. Sebenarnya saya tidak mendapat dorongan dari orangtua saya untuk mengajar di pedalaman Papua. Tapi saya yakin keberanian untuk mewujudkan akan berhasil," ujarnya.