Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

22 Des 2016

Distrik Bina tak memiliki guru, anak-anak tak bersekolah

by on 16.49
Honai milik siswa Smp asal Distrik Pogoma yang berlokasi di Distrik sinak - Jubi/Hengky Yeimo

Sinak, Jubi - Tokoh pemuda di Kabupaten Puncak, Kitanus Murib mengatakan, Distrik Bina pemekaran dari Distrik Pogoma tidak memiliki guru, yang ada hanya kepala distrik, bendahara, dan masyarakat.

Sejak 1980-2000-an, kata Murib, memang ada beberapa guru yang menetap di Kampung Bina, namun 2000-an tidak ada lagi guru yang menetap, sehingga anak-anak tidak bersekolah lagi. 
"Sejak dimekarkan Kabupaten Puncak Jaya dari Kabupaten Paniai, kemudian dimekarkan lagi Kabupaten Puncak hingga saat ini dimekarkannya Distrik Bina tidak ada guru honor atau guru tetap hingga saat ini," kata Kitanus Murib kepada Jubi, Selasa (21/12/16).
Ia menjelaskan, meski Pemerintah Puncak sudah mengontrak guru-guru perintis, tetapi mereka hanya bertugas di distrik lama saja. Sedangkan di kampung-kampung itu tidak dijangkau karena faktor geografis,
Setelah dimekarkan, katanya, ini kami sabagai pemuda Distrik Bina memita agar pemerintah mengirimkan guru-guru perintis ke Distrik Bina agar mengaktifkan sekolah yang ada.
"Sebagai solusi saya juga akan mengajak adik-adik untuk masuk di jurusan keguruan, sebab banyak pemuda yang tidak memilih untuk menjadi guru, apalgi tenaga medis, sehingga saya akan menggerakan adik adik untuk banyak yang kuliah di bagian keguruan agar mereka kembali mengabdi sebagai guru," kata Murib.
Pemuda lainnya, Kris Murib mengatakan hal senada. Ia berharap agar pendidikan di Puncak harus dibenahi dengan baik agar dapat mencetak SDM yang baik.
"Pemuda puncak jangan mengambil jurusan pemerintah dan hukum saja, tapi juga harus mengambil jurusan guru dan jurusan kesehatan agar ada regenerasi Kabupaten Puncak," ujar Kris Murib. (*)

Sumber: http://tabloidjubi.com/

5 Des 2016

Dana pendidikan mahasiswa Yahukimo dianggarkan Rp15 miliar

by on 10.00

Jayapura, Jubi – Bupati Yahukimo terpilih Abok Busup mengatakan, telah menganggarkan dana pendidikan Rp15 miliar pada 2017 untuk mahasiswa kabupaten itu yang kuliah tersebar di seluruh Indonesia.

"Saya berharap adik-adik yang kini duduk di bangku kuliah agar bisa belajar dengan baik, kalian tidak usah khawatir dengan dana pendidikan, karena pemerintah daerah sudah menyediakan dana untuk tahun anggaran 2017 sebesar Rp15 miliar," katanya disambut tepuk tangan mahasiswa di Asrama Yahukimo, Jayapura baru-baru ini.
Busup mengatakan, stafnya sedang mendata mahasiswa asli Yahukimo yang sedang menempuh pendidikan di seluruh Indonesia.
"Datanya harus valid agar penyaluran anggarannya juga tidak salah alamat, saya juga baru tahu bahwa ada mahasiswa asli Yahukimo yang kini menempuh pendidikan di Ternate, Ambon, Aceh, dan beberapa wilayah di Indonesia, ini menandakan anak-anak Yahukimo juga punya niat untuk mencari pendidikan yang lebih baik," ujarnya.
Busup juga berjanji pihaknya tidak akan menahan dana pendidikan yang merupakan hak para mahasiswa.
"Saya sudah perintahkan Kepala Dinas Pendidikan Yahukimo untuk menulis daftar nama-nama mahasiswa yang kini menempuh pendidikan di dalam Papua mapun di luar Papua, dengan begitu kita bisa tahu jumlah anak-anak kita yang lagi sekolah sehingga ketika pemberian uang kuliah bisa langsung diberikan kepada yang bersangkutan, kalau terlambat pembayaran dari Pemda, saya tidak segan-segan mengganti kepala dinasnya," katanya.
Ia berharap semua mahasiswa Yahukimo memiliki tabungan BRI atau Bank Papua untuk mempermudah transfer beasiswa. Sebab di Yahukimo hanya ada dua bank tersebut.
Ketua Asrama Komunitas Pelajar dan Mahasiswa Yahukimo (KPMY), Habel Pusop mengatakan, sangat senang karena ada perhatian serius dari Abok Busup sebagai kepala daerah terhadap mahasiswa yang kini menempuh pendidikan di seluruh Indonesia. (*)

Sumber : http://tabloidjubi.com/

5 Nov 2016

Anak-anak Papua harus dididik dengan gaya Papua, bukan gaya Jawa

by on 10.40

Hampir 29 kabupaten/kota di Papua memilih menggunakan guru bantu atau guru kontrak untuk mendidik anak usia sekolah hingga ke kampung-kampung. (Liputan6.com/Katharina Janur)

SuaraDukanews,Jakarta--
Seorang wanita kelahiran Magelang, Rosa Dahlia, sangat tertarik pada pendidikan di Papua. Wanita yang kini telah memasuki tahun ke-4 bekerja di Papua ini begitu kritis ketika melihat pendidikan di Papua tak sesuai dengan kurikulum pendidikan di Jawa.

Sejak mengikuti program pendidikan yang mengirim para pengajar di Papua, Rosa makin tenggelam dalam dunianya. Tiga tahun lalu, ia pernah mendapat tugas mengajar di gunung. Ia mengamati banyak sekolah tidak aktif dipergunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

"Banyak sekolah yang tidak aktif. Guru juga banyak yang tidak aktif di lokasi sekolah. Lebih banyak guru tinggal di kota dibanding di lokasi. Selain itu, kurikulum yang dipakai Jawasentris," kata Rosa saat berbagi pengalaman dalam acara Festival Orang Muda di Gedung Tempo, Jakarta, Sabtu, (5/11/2016).


Menurut Rosa, kemampuan literasi anak-anak Papua memang kurang, tapi mereka tidak bodoh dan tidak malas. Ia berpendapat anak Papua hanya butuh diberikan pendidikan dan bukan diajar dengan gaya Jawa. Wanita lulusan sastra ini memang menyukai anak-anak.
Pada tahun 2013, ia mengajar di SD Tom, Lanny Jaya. Jumlah siswa ada 30 anak. Sistem sekolah anak berbanding mirip dengan sistem yang diterapkan di Jawa.
"Waktu itu kepala sekolahnya bilang, apa yang ada di Jawa harus ada di papua," katanya

Gaya Belajar Papua
Rosa bercerita ia pernah mengajar di Distrik Poga, sekolah unggulan. Di sana, ia sangat sulit mengajar bahasa indonesia. Mereka masih terbata-bata.
Akibat melihat sistem sekolah yang Jawasentris, Rosa memberikan pengajaran yang berbeda. Sistem mengajar kreatif yang diajarkan Rosa tidak menjauhkan anak-anak Papua dari daerahnya. "Anak-anak Papua harus dididik dengan gaya Papua, bukan gaya Jawa," katanya.

Akhirnya, ia diberhentikan yayasan mengajar karena tidak bisa mengikuti sistem kurikulum yang ditetapkan yayasan. Setelah diberhentikan, ia justru terpanggil ke Papua. Terbang ke Papua dengan biaya pribadi, ia mulai mengaktifkan kembali sekolah di Lualo, Lanny Jaya, yang sempat tidak aktif.
Rosa pun berhasil merekrut guru. Aktivitas Rosa sekarang, ia pindah ke Asmat. Proses masih tahap observasi selama satu bulan. Ia juga menilai sistem sekolah untuk anak Asmat tidak bisa mengakomodasi kebutuhan dengan pendidikan.

Sebagai bagian fasilitas, Rosa membuat sekolah Asmat dengan sekolah perahu. Hal ini karena melihat mereka suka berburu dan melaut. Pengajaran yang diutamakan berupa baca, tulis, dan hitung.
"Saya ingin memberikan kesempatan anak-anak Papua untuk belajar. Sebenarnya saya tidak mendapat dorongan dari orangtua saya untuk mengajar di pedalaman Papua. Tapi saya yakin keberanian untuk mewujudkan akan berhasil," ujarnya.

Comments System

Disqus Shortname

Full Width CSS