Tampilkan postingan dengan label Gidi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gidi. Tampilkan semua postingan

29 Nov 2016

Rapat BPL GIDI ke-53, 90 persen mimbar GIDI berbahasa daerah

by on 05.41
Cover buku Penafsiran Alkitab dalam bahasa Lani. - Jubi/Yuliana Lantipo
SuaraDukaNews: Nabire, Jubi - Presiden Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), Pendeta Dorman Wandikbo, mengatakan sebagian besar gereja GIDI di Tanah Papua masih menggunakan bahasa daerah dalam menyampaikan firman Tuhan.
"90 persen mimbar GIDI masih pakai bahasa daerah. Dan, sisanya 10 persen, mimbar gereja pakai bahasa Indonesia. Jadi, (buku-buku penafsiran Alkitab berbahasa Lani) ini memang kebutuhan jemaat," kata Pdt. Dorman Wandikbo kepada Jubi, menanggapi laporan dari wilayah Yamo, dalam rapat Badan Pekerja Lengkap (BPL) GIDI ke-53 di Nabire, Selasa (29/11/2016).
 
Pimpinan Badan Pekerja Pusat (BPP) GIDI itu menjelaskan saat ini GIDI memiliki 6.000 pendeta. Dari jumlah itu, sebanyak 4.000 pendeta yang melayani diberbagai daerah pelosok di Tanah Papua masih menggunakan bahasa daerah, "hampir semua dalam bahasa Lani," jelasnya. Gereja yang disebut lahir dari misionaris orang asli Papua itu, hingga kini melayani dengan 52 bahasa di seluruh Indonesia.
 
Perpustakaan berbahasa Lani

Yamo, satu dari delapan wilayah penginjilan Gereja Injili Di Indonesia, yang berada di Wamena barat, akhirnya memiliki perpustakaan baru, Perpustakaan Penafsiran Alkitab Bahasa Lani. Seperti namanya, perpustakaan ini mengoleksi dan menerbitkan buku-buku tentang cerita dalam Alkitab yang ditafsirkan dalam bahasa Lani.
Ia memiliki sekurangnya 20 judul buku dan telah menerbitkan sedikitnya 1000 buku per judul dalam setahun.
 
"Kami sudah punya Perpustakaan Tafsiran Alkitab," kata Evanjelis Gandius Enumbi saat melaporkan program penginjilan dan pemuridan dihadapan ratusan penginjil lain dan pimpinan rapat BPL, Senin (28/11/2016).

Perpustakaan Penafsiran Alkitab Bahasa Lani tersebut mulai dibangun pada 2014 dan baru diresmikan pada 16 Oktober 2016, di kota Mulia, Puncak Jaya. Perpustakaan itu kini sudah dipenuhi dengan ribuan buku penafsiran Alkitab yang ditulis dalam bahasa Lani, yakni bahasa daerah yang digunakan oleh sebagian besar penduduk Wamena, khususnya dari wilayah bagian barat.
 
Evanjelis yang juga guru Alkitab di Mulia itu mengatakan kehadiran perpustakaan itu menjadi media yang sangat baik dalam mendukung program wilayah Yamo dalam menjalankan pelayanan khususnya bagi para penginjil dan calon penginjil yang masih bersekolah di Sekolah Alkitab Mulia.

"Tujuan terutama untuk menjadi pegangan guru-guru Alkitab, kemudian pegangan bagi siswa Alkitab. Ini juga menjadi pedoman bagi hamba Tuhan dalam pelayanannya di gereja. Karena masyarakat umumnya masih bicara dalam bahasa Lani," ujar Ev. Gandius Enumbi, yang juga Sekretaris Wilayah Yamo kepada Jubi.
Menurut Ev. Gandius, mengaku dirinya jadi lebih memahami maksud penjelasan dalam Alkitab ketika membaca buku tafsiran berbahasa Lani. Hal yang sama juga dirasakan oleh siswa Alkitab yang diajarnya dan jemaat dalam pelayanannya.
"Buku ini sangat membantu karena dulu kita hanya punya Alkitab bahasa Lani, tapi sekarang sudah ada buku-buku penafsiran jadi ini tolong kami lebih mengerti," kata guru itu.
Buku-buku tafsiran mulai dibuat tahun 1997 oleh Pendeta Leon Dellinger. Ia seorang pendeta dan misionaris dari UFM atau saat ini dikenal sebagai Cross World.
Ev. Gandius mengatakan, penyempurnaan buku dalam bahasa Lani melibatkan sebuah tim yang terdiri dari Pdt. Inenik Tabuni, Ev. Yosep Wonda, Pdt. Telius Wonda, termasuk dirinya.
"Setiap tahun, kami terbitkan 1000 buku per judulnya. Dan, sekarang ini kami sudah punya sekitar 20 buku tafsiran Alkitab bahasa Lani," katanya.
Sekretaris wilayah Yamo itu menambahkan, perpustakaan itu juga mengoleksi beberapa buku tambahan seperti buku Doktrin Alkitab, Sejarah Gereja, Etika Kristen, Pemuridan, Konkordansi Alkitab (tentang cara cepat mencari ayat atau judul dalam Alkitab). (*)
Berikut dafar Buku-buku yang telah ditafsirkan ke dalam bahasa Lani.
Perjanjian Lama:
1. Buku Kejadian dan Ayub,
2. Buku Kitab Taurat Keluaran-Ulangan,
3. Yosua-Ruth,
4. I dan II Samuel - I dan II Tawarikh.
5. Mazmur-Pengkotbah,
6. Esra, Nekemia, Ester, dan Agai Sakaria Maleyakhi
7. Yesaya dan Hosea-Sefanya.
8. Yeremia-Yeheskiel.  

Perjanjian Baru:
1. Buku Kehidupan Yesus 1
2. Buku Kehidupan Yesus 2
3. Buku Kehidupan Yesus 3
4. Buku Kisah Rasul-I dan II Korintus
5. Buku Galatia-Filemon
6. Ibrani- I,II,III Yohanes
7. Kitab Daniel dan Wahyu.

13 Nov 2016

BPL GIDI Yahukimo, Pemda Siap Sekolahkan Penginjil

by on 00.20
BPL GIDI Yahukimo, Pemda Siap Sekolahkan Penginjil
Bupati Abock Busup dijemput ketua wilayah Yahukimo Menas Mirin beserta rombongan di bandara Korupun untuk membuka Rapat Koordinasi Badan Pekerja Lengkap (BPL) ke-17 GIDI. - Jubi/Piter Lokon

Jayapura, Jubi - Bupati Yahukimo Abock Busup menyatakan siap menyekolahkan calon penginjil dari wilayahnya selama lima tahun kedepan. Pengurus Klasis dari Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) wilayah Yahukimo diminta mendata dan melaporkan nama calon-calon penginjil untuk disekolahkan. 


"Pemerintah berkomitmen akan mengirim hamba-hamba Tuhan untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Teologi dan memberikan bantuan biaya studi, maka itu kami harapkan setiap klasis utus siapa saja yang akan melanjutkan studi lanjut. Kami berikan pembiayaan agar ada stock hamba Tuhan karena ini program lima tahun pemerintah," kata Abock Busup kepada Jubi via seluler, Minggu (30/10/2016). Hal tersebut ia sampaikan pada Rapat Koordinasi Badan Pekerja Lengkap (BPL) ke-17 GIDI yang dipusatkan di Distrik Korupun, Klasis Yamin, pekan lalu.

Abock yang telah memimpin sembilan bulan ini menuturkan kegiatan keagamaan menjadi salah satu perhatian pemerintah dengan memasukannya dalam program kerja pemerintahan AbYu (Abock-Yulianus) untuk lima tahun ini. "Pemerintah selalu mendukung kegiatan gereja, karena injil yang pertama kali masuk dan menginjili di wilayah Yahukimo, kota Dekai. Setelah ada gereja baru kemudian pemerintah masuk, jadi memang pemerintah harus mendukung kegiatan yang dilaksanakan oleh gereja," ucapnya. 

Baca Juga : PENGINJIL GIDI PRIHATIN KONDISI STAKN

Kontributor Jubi di Yahukimo Piter Lokon mengatakan kegiatan tersebut dibuka dilangsungkan selama empat hari, mulai Senin (24/10) sampai Kamis (27/10) dan dihadiri oleh 15 klasis; satu calon klasis; dan tiga bakal calon klasis GIDI Wilayah Yahukimo. BPL wilayah tersebut merupakan kegiatan rutin yang selalu dilaksanakan sekali tiap tahun untuk beberapa agenda, salah satunya evaluasi kinerja para penginjil di daerah pelayanan.

"Kami melakukan evaluasi pelayanan tahunan sesuai hasil keputusan sidang GIDI Wilayah Yahukimo tahun 2012 lalu dan penetapan agenda penting gereja GIDI. Kami juga membahas pesiapan untuk rapat BPL BPP (Badan Pekerja Pusat) GIDI di Nabire pada 23-27 November 2016," kata Ketua Wilayah Yahukimo, Menas Mirin kepada kontributor Jubi. 



Menas Mirin mengatakan peserta dan pengurus banyak mengutarakan kendala-kendala yang dihadapi selama menjalankan tugas teologinya dan bersama-sama mencari jalan keluarnya. "Kami juga membahas apa saja yang menjadi tantangan selama setahun ini, sehingga beban-beban itu tidak hanya dirasakan wilayah tetapi pimpinan di tingkat atas badan pekerja GIDI bisa ambil perannya dan melihat ini jadi beban kita bersama," katanya. 

Sementara itu, Wakil Presiden GIDI, Usman Kobak, mengingkatkan para peserta BPL yang mengusung tema "pergunakanlah waktu yang ada" yang diringkas dari kitab Efesus 5:16 untuk senantiasa menjalankan pelayanannya dengan fokus pada visi dan misi gereja tersebut. 


"Gereja GIDI sudah berusia 55 tahun, ini usia dewasa dan matang bagi manusia, maka hamba Tuhan harus fokus. Fokusnya adalah gereja melayani tepat sasaran yaitu jiwa dan bawa orang kepada Kristus," ucapnya. (*)

Baca Juga : KELUAR BESAR GIDI BERDUKA, ATAS MUSIBA YANG MENIMPA 3 JEMAAT ILE-ALE TIMIKA.


4 Sep 2016

Jemaat GIDI Wilayah Tolikara Gelar KKR

by on 04.43
Logo GIDI

SuaraDukaNews : Tolikara– Sebanyak 432 orang Jemaat Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Wilayah Tolikara dari 22 Kaliss hadir dalam kegiatan Kebaktian Kebangunan Kohani (KKR).
Kegiatan yang dilakukan BPH Wilayah Tolikara setiap lima tahun sekali ini, mengambil tema Ciptaan Lama Telah Berlalu, Sesungguhnya yang Baru Sudah Datang. “Acara ini bertujuan untuk memperkuat iman, pengharapan, dan kasih tak saja antar sesama umat Nasrani namun juga sesama umat Muslim, Hindu, Budha dan lainnya”, ujar Pendeta Nebo Erelak, Rabu lalu (28/8) dalam acara tersebut.
Menurut dia kegiatan kebangunan rohani ini dapat memupuk kebersamaan antar jemaat. Selain itu, pelayanan tukar mimbar antar Jemaat juga sangat penting dilakukan untuk memberikan penyegaran kepada jemaat dalam melakukan ibadah.
Pendeta Nebo Erelak yang merupakan Kepala Sekolah Alkitab Maranatha bahasa Dani di Kembu/Mamit juga menjelaskan tujuan pendirian organisasi GIDI.
“Ini dibentuk dengan semangat kasih oleh Orang Tua kami Toli kala itu masih dalam kondisi berkoteka. Orang Tua kami membentuk Organisasi GIDI ini dengan dasar kasih,” ujarnya.
Di awal acara tampak Mama Mama Papua berdatangan secara tiba – tiba, muncul mengenakan pakaian sederhana dan berkaki telanjang sambil menari dengan berlari.
Mereka menghampiri ratusan Jemaat GIDI Nanggulime yang berkumpul sore itu di halaman Gereja GIDI Nangguli, menanti kedatangan tiga orang hamba Tuhan asal Kembu/Mamit.
Setelah ibadah yang berlangsung selama 3 hari tersebut, mereka kemudian  pulang ke kampung masing – masing melalui jalur darat dan jalur udara dengan pesawat perintis. Ada yang yang berjalan kaki karena belum terhubung akses transportasi.(Derwes Yikwa).

Comments System

Disqus Shortname

Full Width CSS