Tampilkan postingan dengan label Tanisan AnakNegri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanisan AnakNegri. Tampilkan semua postingan

23 Sep 2016

PUISI BUAT PARA PEJUANG WEST PAPUA

by on 08.39
Aktivis KNPB

PUISI BUAT PARA PEJUANG WEST PAPUA
Demi negri
Engkau korbankan waktumu
Demi bangsa…
Rela kau taruhkan nyawamu
Maut menghadang di depan
Kau bilang itu hiburan

Tampak raut wajahmu
Tak segelintir rasa takut
Semangat membara di jiwamu
Taklukkan mereka penghalang negri

Hari-hari mu di warnai
Pembunuhan dan pembantaian
Dan dihiasi Bunga-bunga api
Namun tak dapat…
Runtuhkan tebing semangat juangmu

Teriakan kasih yang setia menemanimu
Kaki telanjang yang tak beralas
Pakaian dengan seribu wangian
Basah di badan keringpun di badan
Yang kini menghantarkan West Papua ke Meja PBB
Kedalam istana Penentu Perdamaian.

Semoga Tuhan Mengasihi Kami Semua.

4 Sep 2016

KITA ORANG PAPUA HARUS BANGKIT DAN MEMIMPIN DIATAS TANAH SENDIRI.

by on 11.09
Aliansi mahasiswa papua 

SuaraDukaNews: AMP_Orang lain yang datang tidak akan pernah membangun Papua. Orang Papua sendiri yang akan bangkit memimpin dirinya sendiri,”pesan singkat Kain kepada saya mengingatkan saya nubuat Pdt. Isak Samuel Kijne yang selalu menjadi buah bibir orang Papua ketika bicara soal pembangunan Papua yang karut-marut  saat ini.

“Di atas batu ini, saya meletakkan peradaban orang Papua. Sekali pun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat, tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini. Bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri,”tulis I.S. Kijne dalam batu peradaban di Teluk Wondama.

Pesan itu menjadi situs sejarah penting dalam peradaban orang Papua.

Usai membaca nubuat hamba Gereja itu, terlintas pertanyaan di benak.  Mengapa orang bermakrifat tinggi yang mendatanggi orang Papua tidak dapat memimpin orang Papua? Kenapa orang Papua yang harus bangkit memimpin dirinya sendiri? Kapan orang Papua akan bangkit dan akan memimpin dirinya sendiri?

Nubuat hamba Tuhan ini suatu kepastian yang belum bisa kita jawab hari ini. Walaupun belum, kita yakin bahwa ‘waktu’ pasti akan menjawab. Waktu refleksi dan waktu tindakan usaha pembuktian nubuat akan menjadi satu kenyataan, orang akan Papua memimpin dirinya sendiri. Refleksi dan tindakan pembuktian nubuat itu sangat penting.

Waktu refleksi kita meyakini bahwa wejangan I.S. Kinje ini lahir dari suatu pengamatan realitas hidup orang Papua, kemudian masuk ke dalam penafsiran konteks kitas suci. Kalau bicara kitab suci, nubuat ini sangat mendasar. Kitab Perjanjian Lama orang Kristen dan juga kitab orang Yahudi menulis kisah penciptaan alam semesta dan bangsa-bangsa manusia di bumi.

Kisahnya begini. Allah menciptakan alam semesta dengan satu struktur yang sangat teratur. Allah menciptakan langit dan bumi, segala isinya, lalu berpuncak pada menciptakan manusia. Allah memberikan kuasa kepada manusia untuk menguasai alam. Kuasa Allah kepada manusia untuk mengolah alam.

“Penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi,”Ktab Kejadian berkisah mengenai penciptaan dan kewenangan manusia atas alam semesta. (Baca:Kejadian 1:1-29).

Kalau kisah yang orang Kristen yakini itu satu kepastian, Tuhan tidak mungkin salah dalam menciptakan bumi, isi bumi, dan manusia Papua. Allah tidak mungkin menciptakan alam Papua yang sungguh indah, alam yang suguh kaya raya yang luar biasa ada dengan kemampuan manusia Papua yang rendah. Allah pasti menciptakan manusia Papua dengan kecerdasan dan kebijaksaan yang mampu menguasai alam ciptaan Tuhan yang menjadi miliknya.

“Orang Papua harus yakin bahwa Allah pasti menciptakan manusia Papua dengan kemampuan mengatasi keindahan dan kekayaan alam Papua,”ujar Kain dalam satu diskusi dengan saya. Lalu, kata Kain lagi kepada saya, “Karena itu, sangat salah kalau mengatakan orang Papua tidak bisa, bodoh, dan pemalas. Salahnya terletak pada sistem penyadaran orang Papua akan potensinya yang melebihi alam Papua itu.”

Orang Papua harus kembali kepada satu kesadaran penuh akan kemampuannya. Kemampuan orang Papua yang mengatasi alam itu dengan satu tujuan yang khusus: orang Papua mengolah alam yang indah menjadi lebih indah, mengolah kekayaan alam yang ada menjadi lebih kaya tanpa merusak. Hanya orang Papua yang bisa tahu dan bertidak menjadikan Papua lebih indah dan kaya. Untuk itu orang asli Papua harus bersatu tanpa memandang suku dan agama' Agar menjadi pemimpin diatas Tanah sendiri.

Karena itu, ingat! Orang lain tidak akan mungkin membangun Papua lebih indah dan lebih kaya. Orang lain pasti membuat Papua lebih rusak dan makin lebih buruk, Oleh karena itu mari kita Bersatu dan lawan Negara Kapitalisme Amerika Dan Kolonialisme Indonesia yang 
Kita rebut kembali hak-hak kita,

Tuntutan Hak Penentuan Nasib sendiri adalah hak setiap orang, dijamin oleh Hukum internasional sehingga wajib diperjuangkan oleh rakyat Papua Barat, karena Hak Politik Bangsa Papua, telah dilanggar oleh Pemerintah Indonesia, dalam pelaksanan Penetuan pendapat Rakyat pada tahun 1969 di Papua Barat, merupakan pelecehan terhadap penghormatan hak asasi manusia di muka bumi ini.
Kolonialisme Indonesia yang kini menjadi jembatan bagi kapitalisme global adalah musuh rakyat dunia yang harus dihapuskan. Pemerintah Indonesia  adalah perampok hak politik bangsa Papua, yaitu hak penentuan nasib sendiri melalui rekayasa Pepera tahun 1969. Kolonialisme dan kapitalisme (imperialisme) tanpa merasa bersalah telah menjadi aktor penentu masa depan bangsa Papua. Dari Pepera 1969 hingga paket politisasi Otonomi Khusus (Plus) 2013, kolonialisme tak henti-hentinya menjadi penentu masa depan bangsa Papua. Oleh karena itu, kita bersatu dan tuntutan hak menentuan nasib sendiri (The right of Self-determination) adalah mutlak diperjuangkan. Kita harus menjadi penentu masa depan kita sendiri,

1 Sep 2016

Aparat Bersenjata Di Sidang Putusan Praperadilan Obby Kogoya

by on 02.57

Jayapura, Jubi – Sidang putusan praperadilan Obby Kogoya, Selasa (30/8/2016) di Pengadilan Negeri Sleman, Yogyakarta, dilecehkan oleh kehadiran 4 orang aparat keamanan bersenjata laras panjang di ruang persidangan, tepat di belakang hakim.
Menurut keterangan pengacara Obby Kogoya dari LBH Yogyakarta, Emanuel Gobay, yang dihubungi via telpon Rabu (31/8/2016), sejak awal mereka memasuki ruang persidangan dua orang aparat provos bersenjata pistol sudah ada di dalam ruangan, masing-masing di samping termohon dan pemohon.
“Lalu sebelum hakim memasuki ruangan, ada 4 orang brimob lengkap dengan senjata laras panjang berdiri di belakang hakim,” ujar Emanuel yang kemudian mengajukan keberatan kepada Hakim Bagindo Rajoko Harahap, sebelum yang bersangkutan membacakan putusan sidang.
“Kami meminta hakim untuk mengarahkan empat orang bersenjata itu keluar ruangan, sebagai penghormatan terhadap sidang yang harus bersih dari senjata,” ujarnya.
Selanjutnya hakim memang mengarahkan keempat orang tersebut untuk meninggalkan ruang sidang, sambil mengatakan bahwa dirinya (hakim) pun sebelumnya turut diperiksa. “Hakim bilang, dia sendiri tidak tahu menahu sama sekali terkait kehadiran mereka, apakah pertimbangan pengadilan atau inisiatif kepolisian, yang pasti dirinya belum tahu,” kata Emanuel menirukan ucapan hakim Bagindo kepadanya.
Bagi pengacara Obby yang asli Papua ini, peristiwa kehadiran keempat orang aparat tersebut adalah pelecehan terhadap ruang sidang yang mulia, “orang-orang bersenjata di ruang sidang itu penghinaan terhadap pengadilan,” tegasnya.
Keempat aparat berimob tersebut memang meninggalkan ruang sidang, namun 2 orang provos tetap berada di ruangan dari awal sampai akhir persidangan.
Emanuel Gobay menjelaskan bahwa kehadiran aparat bersenjata ini sudah dua kali terjadi di persidangan Obby Kogoya. Selain sidang yang baru lalu, persidangan pembuktian pada Jumat (26/8) juga dicemari oleh kehadiran saksi-saksi fakta termohon yang mengantongi senjata.
“Kami sempat meminta hakim juga untuk mengamankan senjata mereka,” ujar Emanuel. Dirinya juga sangat kecewa atas fakta begitu ketatnya pengamanan peradilan di dalam dan luar sidang, padahal Obby adalah korban dan mahasiswa biasa saja.
Hal itu dibenarkan Imam Ghazali, seorang reporter LPM Ekspresi UNY Yogyakarta, yang hadir pada sidang tersebut.
“Sidang putusan Obby Kogoya terlalu berlebihan jika dijaga aparat bersenjata dengan sangat ketat, bahkan aparat memasuki ruang sidang. Tindakan seperti itu, menunjukkan bahwa aparat tidak mematuhi hukum yang berlaku dalam persidangan. Tindakan seperti itu justru tidak sesuai dengan tujuan aparat sebagai penegak hukum, tapi justru melanggar hukum yang berlaku di persidangan,” ujarnya melalui pesan singkat ketika dihubungi Jubi Rabu (31/8) sore.
Bahkan, lanjutnya, lebih banyak aparat yang hadir ketimbang warga.
Putusan Pengadilan
Hakim Pengadilan Sleman yang berkeputusan menolak praperadilan Obby dan membenarkan tindakan penangkapan polisi, menurut pernyataan sikap LBH Yogyakarta sebagai pengabaian fakta-fakta krusial secara keseluruhan.
“Padahal selama persidangan sesungguhnya terkuak sejumlah fakta tidak masuk akal dalam proses penetapan tersangka itu,” demikian menurut LBH Yogyakarta.
Fakta pertama, lanjut LBH, seluruh alat bukti yang dijadikan dasar oleh polisi untuk mentersangkakan Obby Kogoya tidak diperoleh dalam tahapan penyidikan. Lalu, ada senjata di dalam ruangan, yang seharusnya Komisi Yudisial bisa melihat hal ini sebagai pelecehan pengadilan. Fakta lainnya juga alat bukti surat berupa visum et repertum tidak punya kekuatan pembuktian.
“Kami tegaskan sekali lagi bahwa Obby Kogoya tidak pernah melakukan kekerasan terhadap petugas, penetapan tersangka Obby Kogoya sarat dengan manipulasi, dan selama persidangan tampak sekali arogansi dan diskriminasi rasial yang dilakukan oleh polisi,” demikian pernyataan tersebut.
Terkait keputusan pengadilan tersebut Emanuel Gobay akan melanjutkan pendampingan terhadap Obby Kogoya. “Saat ini sementara masih tahanan kota ya. Kami sudah minta penangguhan penahanan dengan jaminan seorang mahasiswa. Kalau dililimpahkan ke kejaksaan kami akan lanjutkan permintaan penangguhan itu karena yang bersangkutan masih mahasiswa aktif,” tegas Emanuel.
Pihaknya juga sudah mendapatkan bukti video dan foto terkait pelaku penganiayaan oleh aparat yang akan mereka gunakan untuk advokasi selanjutnya. “Ini meyakinkan kami, ditambah beberapa saksi bahwa mereka tidak melihat Obby melakukan tindakan apa-apa. Saksi kami bahkan melihat Polisi yang melakukan penganiayaan, pengeroyokan dan pemukulan,” ujarnya.
Ditanyakan terkait kondisi psikologi Obby Kogoya, yang masih berusia 20 tahun itu, Emmanuel mengatakan sejauh ini dia dalam keadaan baik-baik. “Saya siap jalankan proses ini karena pada dasarnya saya memang tidak melakukan kejahatan apa-apa,” ujar Emanuel menirukan perkataan Obby pada dirinya.(*)

29 Agu 2016

Kronologis Penembakan Terhadap Pelajar Asli Papua Selama 4 Tahun Berturut-turut.

by on 21.15
Siswa SMA Yang ditembak mati aparat Kepolisian Paniai 2014 lalu,

Suara Duka_Menghabiskan nyawa manusia tidak sesulit menciptakan dan mencetak manusia, tragedi terus terjadi diatas mimbar  kebebasan manusia Papua. Deret peristiwa pembunuhan pelajar Papua, yang terjadi dari tahun 2013, 2014,2015 dan 2016 merupakan, gagalnya Indonesia melindungi rakyat sipil terutama,  pelajar yang  sedang  mengenyam pendidikan di tanah Papua.


Mengapa Satuan Militer Indonesia tembak mati pelajar orang asli Papua? Apa generasi bangsa saat ini  yang sedang mengenyam pendidikan sangat tidak penting untuk untuk masa depan Bangsa? apakah rentetan peristiwa yang selam 4 tahun berturut-turut   di tanah Papua,  sengaja di buat oleh TNI demi kepentingan kelompok tertentu ? Semua menjadi refleksi kita bersama demi menyelamatkan manusia Papua.


Mari kita melihat bersama  Kronologis  penembakan terhadap Pelajar Asli Papua  selama 4 tahun berturut turut.


Senin, 01 Juli 2013 sekitar pukul 14.00 WIT di kota Tiom terdengar bunyi tembakan. Diketahui kemudian, tembakan berasal dari senjata aparat keamanan (TNI). Tembakan itu berasal dari arah kebun seorang warga Popume, Distrik Mukoni, Kabupaten Lani Jaya. Warga kampung segera berlari menuju asal bunyi tembakan dan mereka menemukan seorang anak Pelajar perempuan Papua berusia 11 tahun telah tewas akibat tembakan yang mereka dengar sebelumnya. Anak perempuan itu bernama Arlince Tabuni. Dia anak seorang gembala sidang (Pendeta) di Gereja Guneri yang bernama Yuni Tabuni.[1]


Pembunuhan trus  berlanjut di kabupaten Paniai dengan menewaskan 4 pelajar Papua.

Kamis 7 Desember 2014 Tragedi Paniai berdarah dimulai dari kedatangan mobil Toyota Rush hitam bernomor polisi B2938CD, malam sekitar pukul 20.30 WIT di Bukit Togokutu, Kampung Ipakiye, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai, Papua. Pada malam 7 Desember itu, anak-anak dan remaja Paniai tengah berada di pos Natal. 

Oknum yang diduga anggota TNI tersebut melewati jalan tanpa menyalakan lampu.Padahal di daerah tersebut tidak ada lampu jalan. Jadi cukup gelap. Kemudian para remaja itu memperingatkan untuk menyalakan lampu. Namun, oknum anggota yang sampai saat ini tidak terungkap pelakunya tersebut tidak terima karena diperingatkan para remaja untuk menyalakan lampu kendaraan. Kemudia mereka melakukan penganiayaan dan menembak mati terhadap beberapa Pelajar yang berada di pos Natal  tersebut. Nama-nama Korban pelajar  yang meninggal di tempat ialah Simon Degey, Apinus Gobay, Alfius Youw, dan Yulian Yeimo.[2]

Pembunuhan trus  berlanjut di kabupaten Timika dengan menewaskan 2 pelajar Asli Papua 

Kamis, 28 September 2015, polisi kembali tembak dua orang asli Papua, yang masih berstatus pelajar. Korban adalah Kaleb Bagau (17) pelajar STM Kuala Kencana dan Efrando Sobarek (17) pelajar SMK Petra Jl.Budi Utomo, Timika. Keduanya tertembak sekitar pukul 19.00 WIT di kompleks Biak, Gorong-Gorong, Timika. Kaleb Bagau tewas seketika, sedangkan Efrando masih kritis dan dilarikan ke rumah sakit. Reaksi atas penembakan tersebut, mass melakukan pembakaran di pasar Gorong-Gorong. Bahkan pos Brimob pengamanan areal Freeport ikut dibakar massa yang marah. Sedangkan mobil pemadam kebakaran yang hendak datang memadamkan api, turut dilempar massa. Timika dan Papua umumnya, sepertinya tidak pernah luput dari penembakan terhadap orang Papua oleh aparat keamanan Indonesia.[3]

Pembunuhan terus  berlanjut terhadapa Pelajar Asli Papua di Kabupaten  Intan Jaya.

Sabtu,27 Agustus Kira-kira  pukul 11.30 siang ,waktu, di pertengahan jalan saat si korban pulang bersama ke-5 teman-nya di hadang aparat brmob kompi C biak, yg bertugas di intan jaya Aparat kepolisian dari satuan Brimob yang sedang bertugas di Intan Jaya dikabarkan telah menembak mati dua orang pelajar atas nama Otinus Sondegau (16) di Yokatapa dan Nope Belau, yang juga kena tembakan di tangan korban tersebut merupakan Pelajar Papua asal Intan Jaya.[4]


****
Apa pun alasannya, mestinya aparat keamanan menggunakan pendekatan kekeluargaan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi di Papua. Polisi dan tentara tidak boleh menggunakan senjata negara untuk membunuh orang Papua, yang saat ini adalah bagian dari Indonesia. Pendekatan militerisme yang diterapkan di Papua tidak akan menyelesaikan masalah Papua. Justru akan menimbulkan masalah yang lebih rumit. Ke depan perlu ada pendekatan persuasif terhadap berbagai permasalahan yang terjadi di Papua. 


Kalau ada orang Papua yang minum mabuk atau bikin masalah, harus dipanggil dan diselesaikan dengan baik, bukan dengan cara menembak mereka. Saat ini, setiap ada permasalahan aparat keamanan Indonesia terlalu gampang memuntahkan peluru dari moncong bedil untuk membunuh orang Papua. Saya merasa heran, mengapa aparat keamanan suka tembak orang Papua? Apakah orang Papua harus dimusnahkan dari atas tanah mereka? Apa salah mereka? Bukankah Papua, adalah tanah tumpah darah mereka? Mereka dilahirkan di tanah ini.


Tali pusar mereka dibenamkan di rahim tanah ini. Mengapa mereka dibunuh? Kalau pemerintah dan aparat keamanan Indonesia tetap memperlakukan orang Papua sebagai musuh yang harus dilenyapkan, maka jangan heran kalau suatu hari nanti Papua akan merdeka. 


Dengan membunuh orang Papua, sebenarnya Indonesia sendiri mencabut nasionalis Indonesia di Papua. Bagaimana mungkin orang Papua merasa bangga sebagai orang Indonesia kalau setiap hari mereka dibunuh? Indonesia bilang Papua bagian dari NKRI, tetapi aparat keamanan Indonesia suka sekali tembak mati orang Papua. 


Apakah ungkapan cinta Indonesia terhadap orang Papua itu diekspresikan melalui muntahan timah panas dari moncong senja? Indonesia bilang orang Papua jangan bicara minta merdeka, tetapi tidak pernah memberikan rasa aman kepada mereka. Penembakan dan pembunuhan terhadap orang Papua jelas-jelas mengancam eksistensi orang Papua. 


Orang Papua merasa tidak aman, bahkan terancam di atas negerinya. Mereka merasa sedang dimusnahkan secara perlahan. Selama ini orang Papua minta merdeka. takut punah kalau tetap bersama Indonesia. Setiap hari mereka mati karena penyakit dan ditembak oleh aparat keamanan Indonesia. Orang Papua pikir satu-satunya cara untuk terbebas dari kepunahan adalah berpisah dengan Indonesia. Mereka mau merdeka dan membangun hidup aman dan sejahtera di atas negerinya. Untuk aparat keamanan Indonesia, hentikan penembakan terhadap orang Papua. Ingatlah bahwa cara untuk mempertahankan Papua tetap di dalam NKRI bukan dengan senjata, tetapi dengan keadilan. Timor Leste adalah saksi sejarah bahwa kekuatan militer bukan menjadi jaminan keutuhan NKRI. Jangan sampai Papua seperti Timor Leste, merdeka karena ulah aparat keamanannya. 

Silakan kunjunggi link dibawah ini :




19 Agu 2016

WASPADA,,!! Pembunuhan Orang Papua dengan Motif Tabrak Lari Meraja Lela.

by on 12.20

Suara Duka : Pada saat ini negara penjajah indonesia kehabisan akal sehatnya dan sedang kepanikkan bagaikan cacing kepanasan dan babi liar yang jalan mencungkil disana sini dengan sembarangan.
Kolonial Demi mempertahan West Papua di dalam Bingkai NKRI, Apapun Bisa dilakun Demi Kepenting, Kekuasaan Ekonomi, Politik dll.

Berbagai strategi yang sedang ia pasang didalam semua aspek kehidupan guna untuk menghabiskan kita Orang Asli Papua dari Tanah Papua dalam waktu jangka Pendek.

Beberapa strategi telah kita ketahui dengan langsung seperti " Tabrak lari "Meracuni Makanan, Minuman dan Mengangkat OAP yang sedang berjalan sendiri kedalam mobil hingga dibunuh lalu dibuang, Adapula yang menyamar sebagai mas ojek , tukan bakso dan pedagang kaki lima lainnya " dan masih banyak lagi cara yang sedang digunakan.

Beberapa cara penjajah telah kita ketahui melalui kasih sayang Alam Papua hingga ia memberi penerangan akan hal-hal yang dapat menghabisi kita OAP.

Maka bagi kita yang sedang berjuang murni janganlah pernah memusuhi dan berbuat yang tidak disukai oleh Budayamu , Alammu dan Roh Pribadimu sebab merekalah penjaga dan pelindungmu.

Biarkanlah mereka yang sudah lama bergabung dalam merah putih dan telah menjadi kaki tangan Indomie dan melakukan sesuai keinginan mereka sebab mereka ialah setengah manusia dimata Alam Papua maka Alam akan sendiri mencabut nyawa Mereka.

Mari Bersuara demi Mamamu Alam PAPUA...!!!

Paniai, Kuburan Dijadikan, Tempat Upacara Bendera kolonial NKRI

by on 00.52
Kasus Paniai berdarah, (7-8 Desember 2014) (Fhoto : Abet You,Wartawan Jubi/KM)

Senandungan terdengar lirih
Kaki para penjilat berlomba
Menginjak tempat peristirahatan terakhir
Bagi keempat bocah mutiara ditembak mati
Oleh senjata sang koloni di waktu lalu
Apakah engkau lupa...?
Senjatamu pernah kau tembusi jantung mereka
Kau alirkan darah mereka mencucuri tanah
Dengan konyolnya tulang-belulang kau hancurkan

Kemanakah hati nuranimu...?
Dimanakah tanggung jawabku..?
Kau kibarkan merah putih
Di ujung tiang yang kau tanam diatas kuburan
Akankah merah menjadi putih menembus dosamu..?
Tidaklah mungkin terjadi sedemikian rupa
Hargailah..!
Dan

13 Agu 2016

NKRI SEDANG MELAKUKAN PEMUSNAHAN ETNIS DI WEST PAPUA.

by on 19.58

Indonesia sedang melakukan pemusnahan etnis di West Papua, Demi kekuasaan, Ekonomi dan Politik.

Mimpi buruk itu telah menjadi kenyataan, berdasarkan data BPS tahun 2010 yang menghasilkan data sebagai berikut. Di kota-kota besar Papua, jumlah penduduk pendatang mendominasi. Bahkan info yang kami terima dari BPS, pada tahun 2015 ini jumlah penduduk asli Papua 48 % dan pendatang 52 %, tetapi diperkirakan bahwa presentase penduduk asli Papua sebenarnya lebih rendah dari angka 48% itu.



Tabel dan grafik diatas adalah data tahun 2010, dipastikan tahun 2016 jumlah pendatang meningkat drastis.  Dilain sisi seperti dimuat dalam laporan majalahselangkah.com, edisi Jumat 18 Oktober 2013, tujuan terselubung dari pemerintah Indonesia di Papua untuk pemusnahan etnis Melanesia dan digantikan dengan etnis Melayu semakin jelas dengan data terbaru Jim Elmslie dalam tulisan berjudul "West Papuan Demographic Transition and the 2010 Indonesian Census: Slow Motion Genocide or not? For Comprehending West Papua Conference, Sydney University, February 23-24, 2011." Menurut data tersebut menyebutkan tahun 1971, Penduduk Asli Papua 887.000 orang. Pendatang 36.000 orang. Total Penduduk 923.000; dalam presentase Papua 96% dan Pendatang 4%. Tahun 1990, Penduduk Asli Papua 1.215,897 dan Pendatang 414.210. Total Penduduk 1.630.107. Presentase 75% Penduduk Asli Papua dan 25% Pendatang. Tahun 2005, Penduduk Asli Papua 1.558.795 dan Pendatang 1.087.694. Total 2.646.489. Presentase 59% Penduduk Asli Papua dan 41% Pendatang. Tahun 2011, Penduduk Asli Papua 1.700.000 dan Pendatang 1.980.000. Total 3.680.000. Presentase 47% Penduduk Asli Papua dan Pendatang 55%. Sehingga diperkirakan pada tahun 2020, Penduduk Asli Papua 1.956.400 dan Pendatang 4.743.600. Total 6.700.000. Presentase 29,2% Penduduk Asli Papua dan 70.8% Pendatang. Tahun 2030, Penduduk Asli Papua 2.371.200 dan Pendatang 13.228.800. Total 15.600.000. Presentase 15,2% dan Pendatang mencapai 84.80%. Bila dikomparasikan (dibandingkan) jumlah penduduk OAP Papua tahun 1969 sebanyak 800.000 dan PNG 700.000. Sekarang penduduk PNG sebanyak 6.000.000 (enam juta) jiwa. Langkah terbaik yang harus diambil Papua adalah memerdekakan diri dari NKRI, karena itulah satu-satunya jalan untuk menghindari marginalisasi dan peminoritasan. 

Sumber: http://www.tabloid-wani.com/2016/06/bersama-indonesia-orang-asli-papua-sedang-menuju-kepunahan.html


DI DALAM BINGKAI NKRI, ORANG PAPUA SEMAKIN PUNAH

by on 19.27
Ilustrasi Pembunuha Orang Papua Di West Papua Dari Tahun 1963 Hingga 2016(Foto WK)
Di dalam Bingkai NKRI Orang papua semakin punah..!!
Menurut laporan Jim Elmins ( thn 2011 ) menyebutkan bahwa pada tahun 1971 , jumlah penduduk Orang Asli Papua : 887.000 orang, Pendatang 36. 000 orang dengan total penduduk : 923.000. 

Pada tahun 1990 , penduduk Orang Asli Papua : 1. 215, 897 dan Pendatang : 414. 210 orang dengan total penduduk 1. 630. 107 . 

Tahun 2005, penduduk OAP : 1. 558. 795 dan pendatang : 1. 087. 694 dengan total : 2. 646. 489 orang. 

Tahun 2011 , penduduk OAP : 1. 700. 000 orang dan Pendatang : 1. 980. 000 orang dengan total penduduk : 3. 680. 000 orang. 

Jika tren ini bertahan 50 tahun ke depan , maka tahun 2020 Penduduk Orang Asli Papua : 1. 956. 400 orang dan Pendatang : 4. 743. 600 dengan total penduduk papua : 6. 700. 000 orang. 

Presentase penduduk OAP : 29,2 persen dan 70, 8 persen penduduk pendatang. Jika melihat perkembangan penduduk yang sangat tajam ini , perluh dilakukan langkah-langkah kongkrit dalam rangkah memberikan jaminan dan perlindungan hidup hak-hak dasar rakyat suku-suku asli papua dan hak-hak ulayat diseluruh tanah papua. 

Pemerintah Papua tidak berjalan sendiri tetapi bersama tokoh-tokoh papua berjuang untuk memproteksi kehidupan rakyat asli papua sehingga diharapkan tidak terjadi kepunahan Orang Asli Papua diatas tanahnya sendiri. 

Salam

http://www.wenaskobogau.com/2016/03/orang-papua-semakin-punah.html

Comments System

Disqus Shortname

Full Width CSS