Tampilkan postingan dengan label Perempuan Papua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perempuan Papua. Tampilkan semua postingan

10 Sep 2016

Meniti Mimpi Perempuan Papua di Honai Cantik

by on 01.10

SuaraDukaNews : TIMIKA_Saat pertama kali datang ke Timika, Berti melihat Timika masih tertinggal dari daerah lain, banyak pelajar yang tidak bisa membaca dan tidak memakai sepatu saat bersekolah. Ia membawa 2 orang anak Papua yang sampai sekarang menjadi anak asuhnya. Kedatangannya 13 tahun lalu ke Timika itu membawanya kembali untuk membangun wanita Papua agar bisa mengejar mimpinya.

Honai Cantik adalah lembaga dan tempat untuk belajar mengenai kecantikan, kepercayaan diri dan mengasah kemampuan menjadi seorang wanita yang lebih baik dan bisa membanggakan daerahnya baik diajang nasional dan international.
Hal tersebut disampaikan dalam siaran pers Honai Cantik yang diterima Jubi, Minggu (4/9/2016). Press Conference Honai Cantik sendiri dilangsungkan di hari yang sama di Wannal Coffee & Resto, Timika, Papua.
Berti Manurung, penggagas Honai Cantik mengatakan tujuan dibentuknya Honai Cantik berawal dari keinginannya untuk memajukan Tanah Papua. Saat pertama kali datang ke Timika, Berti melihat Timika masih tertinggal dari daerah lain, banyak pelajar yang tidak bisa membaca dan tidak memakai sepatu saat bersekolah. Ia membawa 2 orang anak Papua yang sampai sekarang menjadi anak asuhnya. Kedatangannya 13 tahun lalu ke Timika itu membawanya kembali untuk membangun wanita Papua agar bisa mengejar mimpinya.
“Saya menggandeng Untung Muliana dari Queen Maker, kami menyatukan sinergi. Suatu saat ada wanita Papua yang bisa meraih juara pertama diajang kecantikan nasional maupun internasional. Tidak hanya wanita saja, bagi para pria bisa juga mendapatkan pengetahuan dan kepercayaan diri, untuk bertemu orang-orang dari berbagai daerah,” kata Berti dalam rilis persnya.
Usai press conference Honai Cantik, lanjut Berti, acara dilanjutkan dengan fashion show dari lima Beauty Queen Indonesia Annisa Ananda Nusyirwan Miss Earth Indonesia 2014, Yolanda Remetwa Miss Grand Indonesia 2015, Ivhanrel Sumirah Miss World University Indonesia 2016, Evan Lysandra Puteri Indonesia Jawa Barat 2016 dan Maria Inez Sanchia Top 10 Haka Amoi Indonesia 2016. Kelimanya membawakan tiga busana karya Harry Ibrahim, Inez Colletion dan Batik Papua.
Dalam kesempatan tersebut, tokoh masyarakat Timika, Alo Rafra mengatakan selama 20 tahun lahirnya kota Timika belum banyak perubahan dalam pembangunan, terutama kaum wanita Papua.
“Para Beauty Queen Indonesia membawa misi untuk merangkul anak-anak muda, baik wanita dan pria Papua, untuk maju bersama dengan melakukan kegiatan yang positif, supaya tanah Papua bisa lebih maju kedepannya bersama Honai Cantik,” kata Alo Rafra. (*)

2 Sep 2016

Belajar Dari Ibu Halosina: Saatnya Perempuan Papua Bangkit Dan Bersuara

by on 04.47
Poster Film 'Tanah Mama' (Dok. Istimewa)
SuaraDukaNews : Yogyakarta, (KM)--Ditinjau seiring perkembangan zaman, pergerakan berkembang pada isu-isu gender seperti masalah peran ganda, isu perkosaan, domestic violence (Kekerasan dalam rumah tangga), serta sikap Patriarki yang mana menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral dalam organisasi sosial.Keterbatasan  kesempatan dan keterlibatan dalam segala lini yang dihadapi oleh perempuan pada umumnya dan khusunya perempuan Papua, sehingga muncul sikap perlawanan untuk merebut keterbatasan itu sendiri.
 
Hal ini dikemukakan setelah adanya kegiatan nonton bersama dari salah satu film dokumenter “Tanah Mama” yang disutradarai oleh Asrida Elisabeth berdurasi 62 menit. Film ini menceritakan sepenggal kisah semangat perjuangan  seorang istri sekaligus ibu bernama Halosina yang tinggal di pedalaman Yahukimo.

“Saatnya Perempuan Papua Bangkit dan Bersuara” adalah tema besar yang diangkat dalam sesi diskusi dan nonton bersama yang diselenggarakan oleh beberapa mahasiswi Papua di Yogyakarta  yang  mengatasnamakan Perempuan Papua (PP). Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, (31/08) dari pukul 18.00 hingga selesai  di asrama mahasiswa Kabupaten Tambrauw Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Maria Baru yang menjadi moderator dalam kegiatan ini, seusai nonton bersama memberikan kesempatan kepada peserta yang hadir. Kira 30-an peserta yang terdiri dari perempuan dan laki-laki Papua yang sedang kuliah di beberapa perguruan tinggi serta partisipan dari beberapa organisasi pro demokrasi di DIY, untuk memberi tanggapan terkait film dokumenter yang ditayangkan di layar besar itu.

Banyak tanggapan-tanggapan yang dikemukakan oleh peserta yang hadir dari berbagai sudut pandang: Ekonomi, Pendidikan, Sosial dan budaya.

Dari semua tanggapan-tanggapan tersebut yang dikutip dari media ini, mereka (Perempuan Papua) tidak menerima perlakuan ketidak adilan yang dialami perempuan Papua, khususnya dalam lingkup keluarga, yang mana kehilangan kasih sayang ayah terhadap istri dan anak-anaknya yang cenderung  membelenggu perempuan, sehingga perempuan dinilai  menjadi kaum yang tidak berdaya.

Perempuan Papua muda yang sedang mengayam pendidikan, harus mencontoh semangat seorang mama, Halosina. Karena menurut mereka, walaupun dari keterbatasan-keterbatasan kebutuhan  hidup  seperti pendidikan, Sosial dan ekonomi. Keluarga yang harmonis dihancurkan setelah adanya uang, Ia tetap berdiri kokoh sebagai sosok perempuan berani untuk berjuang melawan realita hidup yang dialaminya.

Selain itu, kedisiplinan waktu mama-mama Papua sangat tinggi, yang mana bisa membagi waktu untuk berkebun, mengurus anak-anak- mengurus suami dan berjualan di pasar, hal itu dilakukan diluar kesedaran kita, padahal mama-mama tidak memiliki  jam atau alat-alat yang dapat membatu mereka untuk membaca waktu.  

Untuk itu, perempuan Papua minta kepada kaum laki-laki untuk jangan lagi  membatasi ruang lingkup perjuangan perempuan, karena perjuangan perempuan sangat dibutuhkan saat ini. “Di tangan perempuan ada kehidupan,  dimana dia ditempatkan disitu ada kehidupan,” kata salah satu peserta saat diskusi berlangsung. Sebagai perempuan Papua harus buktikan kalau perempuan Papua bisa, memang secara fisik perempuan lemah tetapi dalam mentalitas perempuan harus lebih kuat dari laki-laki.

Menurut mereka, kehidupan perempuan-perempuan Papaua di Papua  dijadikan sebagai objek. Apapun  harus dikerjakan oleh perempuan. Misalnya: mengendong anak, menyiapkan makan, mencari kayu, berkebun dan lain-lain. Untuk itu laki-laki diminta untuk  hargai hak-hak perempuan yang harus dipenuhi.

Mereka juga berpendapat bahwa, tidak harus leki-laki yang didepan, tidak harus perempuan yang didepan tetapi kita sama-sama menjadi teman dalam perjuangan, karena melalui pendidikan dan kesempatan yang mampu melawan realita hidup orang Papua saat ini.

Dibalik adanya harapan itu, ada hal yang perlu diantisipasi terutama tentang upaya keberpihakan pada perempuan. Bagaimanapun kita yakin bahwa gerakan perempuan yang muncul dalam berbagai wadah organisasi mempunyai pesan strategis dan fungsional dalam upaya pemberdayaan perempuan, khususnya dalam penyiapan kaum perempuan untuk terlibat secara aktif dalam pembangunan.

Karena masalah yang ada, bukan hanya kaum laki-laki ataupun kaum perempuan. Bagaiman kita, dengan semangat, pengetahuan, ide-ide untuk  melawan  perubahan budaya akibat  adanya pemekaran, kuriklum pendidikan yang tidak sesuai dengan metode belajar orang Papua. Sehingga perempuan Papua sebagai bagian dari golongan masyarakat di Papua yang saat ini berada dalam penindasan imperialisme dan kolonialisme serta Kapitalisme  yang merubah adat istiadat asli Papua yang sudah secara alami terbentuk dan stabil itu menjadi ketergantungan pada uang dan pemerintah.

Sementara itu, Perempuan Papua (PP) Yogyakarta  juga mengharapkan keterlibatan laki-laki untuk menghadari setiap diskusi yang rencananya akan dilakukan perminggu sekali. 

Comments System

Disqus Shortname

Full Width CSS