| Ilustrasi pemeriksaan Malaria di Desa Mogeya, Kabupaten Paniai Barat-Paniai oleh LSM Yapkema - yapkema.org |
Kupang, Jubi - Asia Pasific Learders Aliansi Malaria (APLMA) mencatat bahwa Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat merupakan penyumbang penyakit malaria terbesar di Indonesia selain provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku.
"Dari 80 persen kasus malaria di Indonesia, ada empat provinsi yang berkontribusi terbesar. Itu adalah Provinsi Papua, NTT, Maluku dan Papua Barat, "kata Ketua APLMA dr Andi Nafsiah Walinono Mboi di Kupang, Senin (15/5).
Nafsiah Mboi, mantan menteri kesehatan menjelaskan bahwa ada 4 stadium malaria yang dikategorikan merah seperti yang tertinggi, kuning, hijau, hingga putih yang bebas dari malaria.
Di NTT, ada enam kabupaten dengan transmisi endemik penyakit nyamuk yang sangat tinggi; Yaitu Pulau Sumba, Kabupaten Lembata, Ende, dan Belu.
"Tidak ada satu daerah di sini yang tingkat endemik malaria putih atau nol atau benar-benar bebas dari malaria," kata mantan Menteri Kesehatan periode 2012-2014.
Menurut Mboi yang juga merupakan delegasi negara atau Kepala Pemerintahan Asia Pasifik, isu penyakit malaria kini telah menjadi perhatian global dan mendapat perhatian berbagai negara di seluruh dunia.
Dia mengatakan setidaknya ada 21 negara di Asia Pasifik yang menderita endemik malaria.
"Dari 21 negara, tiga negara terbesar di Asia Pasifik adalah India, Indonesia dan Myanmar," katanya.
Dari tahun 2000 sampai 2015 negara-negara dunia telah sepakat untuk bersatu untuk mengurangi jumlah morbiditas atau kematian akibat malaria, dan telah berkurang menjadi 75 persen.
Namun, lanjutnya, pola pengobatan hanya untuk kontrol sehingga setelah berhenti, malaria tidak terkendali. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar