![]() |
| logo GIDI – Ist |
Suara Duka : Jayapura, Jubi – Salah satu penginjil GIDI dari Klasis Wikma, Yahukimo, Soleman Simbu mengaku prihatin dengan kondisi Sekolah Tinggi Agama Kristen ( STAKN) di Sentani, Kabupaten Jayapura yang ada dibawah Yayasan Sinode GIDI.
Menurutnya STAKN sudah berdiri kurang lebih 43 tahun lalu dan meluluskan banyak mahasiswa/mahasiswi. Namun fasilitas di STAKN hingga kini masih belum memadai. Misalnya ruang belajar dan asrama mahasiswa yang memiliki daya tampung minimal. Akibatnya STAKN membatasi ketika penerimaan mahasiswa/mahasiswi baru.
“Sekolah itu didirikan GIDI yang memiliki delapan wilayah di seluruh Indonesia. Tak hanya di Papua tapi di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Tapi asrama mahasiswa dan ruang belajar mahasiswa terbatas. Sekolah itu tak diperhatikan baik. Hingga kini gedung-gedung peninggalan misionaris yang masih dipakai,” kata Soleman ketika bertandang ke Redaksi Jubi, Minggu (31/7/2016) malam.
Menurutnya, STAKN GIDI membutuhkan penambahan gedung, ruang belajar dan asrama mahasiswa. Setiap penerimaan mahasiswa/mahasiswi baru, banyak yang mendaftar dari berbagai daerah di Papua. Namun karena keterbatasan asrama dan ruang belajar, sehingga pihak STAKN membahatasi penerimaan jumlah mahasiswa/mahasiswi baru.
“Banyak anak-anak dari berbagai daerah tak diterima sehingga mereka kecewa. Dosen juga mengeluh. Tahun ini misalnya, hanya 35 orang mahasiswa/mahasiswi yang diterima. Jumlah keseluruhan mahasiswa di STAKN kurang lebih hanya 80 orang. Saya harap klasis-klasis dari delapan wilayah bisa berpartisipasi membantu pembangunan asrama dan ruang mahasiswa,” katanya.
Tak hanya asrama dan ruang belajar yang perlu diperhatikan, fasilitas lain seperti rumah dosen kata Soleman juga perlu penambahan. Hingga kini lanjut dia, hanya sebagain kecil dosen STAKN yang dapat rumah.
“Saya berpesan kepada para kader GIDI di Papua terutama yang kini menjadi pejabat, agar bekerjasama dengan yayasan GIDI membehani berbagai kekurangan fasilitas di STAKN,” katanya.
Terpisah, Ketua Fraksi Golkar DPR Papua, Ignasius W. Mimin mengatakan, meski dana Otsus Papua 15 persen untuk bidang pendidikan, namun tak dipungkiri sekolah dan perguruan tinggi swasta belum mendapat perhatian.
“Padahal harusnya sekolah atau perguruan tinggi yang dikelolah yayasan baik yayasan Kristen maupun agama lainnya itu yang mendapat perhatian,” katanya.
Menurutnya, sekolah dan perguruan tinggi negeri sudah memiliki anggaran yang jelas setiap tahunnya. Tak hanya dalam APBD kabupaten/kota, tetapi juga anggaran dari pemerintah pusat. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar