![]() |
Suara Duka : Jerit tangis dan penderitaan orang Papua menjadi bahan tontonan dan bahan tertawa.
Dimata indonesia orang papua tidak begitu penting, Indonesia melakukan pemusnaan etnis dan malas tahu dengan orang Papua! Mungkin itu istilah yang tepat untuk mendeskripsikan sikap Indonesia terhadap orang Papua.
Papua memang punya segalanya: emas, hutan, minyak bumi, cenderawasih dan sebagainya, tetapi Papua kurang cantik dan kurang seksi di mata Indonesia. Papua dilihat sebagai pulau orang hitam, keriting, yang berbusana daun dan kulit kayu. Papua hanya menjadi dapur bagi Indonesia. Tetapi anehnya, ketika orang Papua hendak meninggalkan Indonesia, mau merdeka dan berdaulat, Indonesia justru tidak meresponnya. Indonesia takut dan mengirim banyak tentara dan polisi untuk bunuh orang Papua yang minta merdeka.
Pembunuhan karakter juga berlangsung di sektor pendidikan, ekonomi, budaya, dan kesehatan orang asli Papua,”banyak orang Papua mati dibunuh karena harga diri, bukan karena mencuri memperkosa atau membunuh orang lain.
Bumi Papua sudah memberikan isi perutnya untuk Indonesia. Ironisnya dengan sumber kekayaan melimpah, Papua masih menduduki peringkat pertama dengan persentase penduduk miskin tertinggi di Indonesia. Tidak perlu bertanya kemana kekayaan tersebut mengalir, kita sudah sama-sama tahu. Dari sinilah sumber konflik berkepanjangan itu berasal.
Terbongkarnya kasus "Papa minta saham", semakin membuka mata kita bahwa Papua diperlakukan hanya sebagai sumber kekayaan yang bisa dikeruk demi kepentingan Jakarta, bahkan kepentingan kelompok atau pribadi. Papua tidak pernah dihargai lebih dari itu. Kanyataan ini tentu saja menyakiti orang Papua.
Sejak bergabungnya Papua ke Indonesia, pembangunan di Papua sama sekali tidak berjalan dengan baik. Hadirnya Freeport pun tidak memberikan dampak besar untuk kesejahteraan papua. Justru sebaliknya, menjadi sumbangan penderitaan untuk suku-suku disekitar kawasan tambang yang memicu konflik berkepanjangan.
Hal ini diperparah dengan sikap TNI yang seharusnya melindungi rakyat, malah beralih menjadi centeng-centeng perusahaan asing dan membunuh rakyat sendiri demi uang. Belum lagi hancurnya lingkungan hutan karena limbah-limbah tambang yang mencemari.
Papua sudah memberi lebih banyak daripada menerima. Jika selama ini kelompok-kelompok kecil Papua melakukan aksi meminta keadilan, wajar saja. Yang tidak wajar justru sikap pemerintah yang terlalu resistant terhadap hak-hak masyarakat Papua.
Bicara soal Papua selalu Identik dengan Freeport. Hal ini masuk akal, karena selama ini Papua adalah lumbung padi Indonesia. Dalam 20 tahun (1992-2011) terakhir, pemasukan negara dari Freeport mencapai 15 Miliar Dollar AS. Dengan Freeport saja ekonomi Indonesia masih terseok-seok, Indonesia masih menumpuk hutang, tanpa Freeport kita mungkin tidak bisa apa-apa.
Beberapa target-terget devisa negara seperti perkebunan sangat fluktuatif, sedangkan Pariwisata masih jauh dari harapan. Freeport adalah tumpuan asa Indonesia untuk terus menyambung hidup. Tanpa Papua Indonesia bisa apa?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar