Tampilkan postingan dengan label Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rakyat. Tampilkan semua postingan

19 Sep 2016

Ribuan Rakyat Papua Dukung Koalisi Negara Pasifik di Majelis Umum PBB

by on 23.33
Rakyat West Papua Mendukung Hak Penentuan Nasib sendiri

SuaraDukaNews : Jayapura, Jubi – Puluhan ribu rakyat Papua di Jayapura, Timika, Manokwari, Yahukimo, Merauke, Nabire, Fakfak, dan Sorong,  Senin (19/9/2016) beraksi menunjukkan dukungannya pada Koalisi negara-negara Pasifik untuk West Papua yang akan membawa isu hak penentuan nasib sendiri Papua dan pelanggaran HAM ke Sidang Majelis Umum PBB, yang berlangsung hingga 25 September mendatang.
Di Jayapura, aksi yang difasilitasi oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB) berlangsung di halaman Rusunawa Universitas Cenderawasih, Perumnas III Waena, dihadiri lebih dari seribu orang. Aksi mimbar bebas tersebut diisi oleh doa, pidato-pidato politik dan sosialisasi proses advokasi isu politik Papua di sidang Majelis Umum PBB.
Badan Pengurus Pusat KNPB, yang diwakili oleh Agus Kossay dan Mecky Yeimo, khusus menyoroti peran koalisi negara-negara Pasifik untuk Papua Barat yang sedang mendorong isu West Papua untuk dibicarakan di sidang Majelis Umum PBB.
“Proses ini menunjukkan perjuangan kita tidak berhenti di Melanesian Spearhead Group (MSG). Enam negara (Vanuatu, Kepulauan Solomon, Kepulauan Marshall, Tuvalu, Tonga, dan Nauru) adalah negara-negara yang akan membawa isu hak penentuan nasib sendiri West Papua ke Majelis Umum PBB,” tuturnya di hadapan massa aksi yang setia berpanas-panasan sejak pukul 13.00 hingga selesai.  
Menurut Agus Kossay, rakyat Papua memang sudah memiliki hubungan keakraban dan pergaulan di Pasific (Melanesia) sejak dahulu sebelum Indonesia mengambil alih wilayah Papua sebagai koloninya. “Ras Melanesia sudah melakukan kerja sama dalam aspek baik secara politik dan social budaya di Pasific Selatan,” ujarnya.
Namun, lanjut Kossay, kontak-kontak insentif semakin berkurang ketika Indonesia menganeksasi Papua sejak 1963 hingga pelaksanaan PEPERA 1969 yang cacat hukum dan moral itu. “Lalu Indonesia memblokade komunikasi rakyat Papua dengan Pasifik,” tuturnya.
Dikatakan Kossay 54 tahun Indonesia menggunakan kekuatan kolonial untuk membatasi dan memisahkan rakyat Papua dari pergaulan dengan rakyat Melanesia di Pasifik, baik di forum regional maupun dalam sosial budaya.
“Padahal hubungan itu sudah dilakukan sejak tahun 1940-an sebelum Indonesia merdeka secara politik tahun 1945. Bahkan wilayah Nederland New Guinea (kini Papua Barat) pernah ikut terlibat secara resmi bergabung dalam South Pasific Confrence sejak 1947 hingga 1962,” ujarnya sambil menambahkan bahwa terdapat semangat untuk membebaskan wilayah-wilayah Pasifik dari penjajahan, dan membentuk pemerintahannya sendiri, di dalam konferensi tersebut.
Sementara itu Sekretaris I KNPB Pusat, Mecky Yeimo dikesempatan yang sama menghimbau agar rakyat Papua tetap bekerja keras untuk perjuangan menentukan nasib sendiri sebagai bangsa yang dihargai oleh bangsa lain di dunia, juga sebagai keluarga Melanesia dan Pasific.
“Kami rakyat Papua Barat juga mendukung penuh Pasific Island Forum (PIF) dengan harapan para pemimpin negara memperhatikan hak penentuan nasib sendiri bagi bangsa Papua Barat sesuai dengan resolusi Majelis Umum PBB Nomor 1541,” katanya.
Mereka juga mendesak PBB agar segera mengirim tim pemantau Hak Penentuan Nasib sendiri (Self Determination) sesuai dengan deklarasi Westminster 3 Mei 2016 di Inggris. “Karena, pelaksanaan PEPERA tahun 1969 cacat hukum dan moral serta melanggar prinsip-prinsip act of free choice dalam perjanjian New York Agreement 1962,” tegas Mecky.
Aksi serupa berlangsung di beberapa daerah dalam bentuk turun ke jalan maupun mimbar bebas di sekretariatan.
Menurut keterangan Mecky Yeimo kepada Jubi, aksi secara umum berlangsung lancar walau beberapa penghadangan yang terjadi terhadap aksi turun ke jalan. “Ribuan orang di Yahukimo berhasil melakukan aksi, namun 13 orang semapt ditangkap aparat kepolisian, 5 diantaranya anak-anak, namun sudah dikelaurkan sore tadi. Merauke juga mengalami penangkapan sebanyak 82 orang, dan sudah dikeluarkan sore pukul 5 tadi,” ujar Mecky. (*)

17 Sep 2016

Persentase Penduduk Miskin Terbesar di Indonesia Adalah, Papua, Papua Barat, dan NTT

by on 09.48
Ilustrasi

SuaraDukaNews : Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2015 naik 860.000 penduduk menjadi 28,59 juta penduduk dibanding September 2014 sebesar 27,73 juta penduduk. Jumlah penduduk miskin mencapai 11,22 persen dari total penduduk Indonesia 254,8 juta jiwa. Tiga provinsi dengan persentase penduduk miskin terbesar adalah Papua, Papua Barat, dan NTT.

Kepala BPS Suryamin menyatakan berdasarkan sebarannya, sebanyak 17,94 juta penduduk miskin berada di perdesaan dan sisanya 10,65 juta penduduk miskin di perkotaan. Berdasarkan pulau, penduduk miskin terrbesar berada di Maluku dan Papua 22,04 persen dan yang terendah di Kalimantan 6,42 persen. Berdasarkan provinsi, yang terbesar Papua 28,17 persen, Papua Barat 25,82 persen dan NTT 22,61 persen dan terendah Jakarta 3,93 persen, Bali 4,74 persen, serta Kalimantan Selatan 4,99 persen.
“Garis kemuskinan yang kami pakai mewakili garis kemiskinan makanan setara 2.100 kkal dan 52 jenis komoditas makanan Rp 242.241 serta garis kemiskinan bukan makanan senilai Rp 88.535, jadi totalnya Rp 330.776,” katanya di Jakarta, Selasa (15/9).
Ditambahkan, sejumlah faktor mendorong kenaikan angka kemiskinan, di antaranya inflasi sebesar 4,03 persen, kenaikan harga beras 14,48 persen menjadi Rp 13.089 per kilogram, kenaikan cabai rawit 26,28 persen, serta gula pasir 1,92 persen selama periode September 2014 hingga Maret 2015. Kemudian inflasi pedesaan 4,4 persen serta upah buruh tani yang turun 1,34 persen menjadi Rp 38.552 per bulan.
“Memang kalau tingkat kemiskinan sudah 10-11 persen, menurunkannya agak susah di berbagai negara ASEAN dan Asia juga begitu. Ibarat kalau nasi, sudah masuk pada keranya, perlu upaya khusus. Kemudian kenaikan BBM pada akhir 2014 juga menyebabkan harga barang di awal tahun 2015 naik,” kata Suryamin,

Disini Saya Sebagai Penulis Merasa sedih" Masyarakat Pribumi yang kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang begitu berlimpa Sampe menjamin semua Negara-Negara di dunia tapi Masyaraknya Hidup Melarat dengan kemiskinan.
Sumber : BPJS (Ekonomi)
Editor Dendy Stenly Payokwacihld 

Comments System

Disqus Shortname

Full Width CSS